Ada sesuatu yang selalu menarik dari sebuah adegan transformasi Kamen Rider. Sebelum suara henshin terdengar, sebelum cahaya memenuhi layar, sebelum armor menutup tubuh dan sebuah kekuatan baru muncul, selalu ada seorang manusia di sana. Ia mungkin ketakutan, mungkin marah, mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan mungkin tidak memahami kekuatan yang baru saja diberikan kepadanya. Namun sesaat kemudian, tubuh manusia tersebut berubah. Sebuah armor menutupi tubuhnya, sebuah sistem mekanis mengambil alih, suara elektronik terdengar, dan manusia biasa itu berdiri sebagai sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Seorang Kamen Rider.
Dulu, sebagai penggemar, saya mungkin hanya melihat bagian terakhirnya. Keren. Tetapi semakin dewasa, saya justru semakin tertarik pada sesuatu yang terjadi sebelum dan sesudah transformasi itu. Siapa manusia yang berada di balik armor tersebut? Dari mana kekuatannya berasal? Mengapa ia membutuhkan kekuatan itu? Apa harga yang harus dibayar untuk memilikinya? Dan yang paling penting:
Setelah memperoleh kekuatan sebesar itu, apakah ia masih menjadi manusia yang sama?
Pertanyaan tersebut perlahan mengubah cara saya memandang Kamen Rider. Saya mulai menyadari bahwa mungkin selama ini Kamen Rider bukan terutama tentang manusia yang berubah menjadi pahlawan. Ia adalah cerita tentang manusia yang berubah, lalu berusaha keras agar perubahan tersebut tidak membuatnya kehilangan kemanusiaannya.
Dan mungkin di situlah letak kegelisahan saya terhadap sebagian Kamen Rider modern. Bukan karena saya menolak perubahan, dan bukan karena saya menganggap semua yang lama selalu lebih baik. Tetapi karena saya mulai bertanya apakah di balik semua perkembangan desain, form, gimmick, dan spectacle tersebut, masih ada manusia yang sama. Masih ada pertanyaan yang sama. Masih ada jiwa yang sama.
Nostalgia yang Ternyata Bukan Sekadar Nostalgia
Ketika kita tumbuh bersama sebuah karya, ada kecenderungan untuk menganggap masa lalu selalu lebih indah. Kamen Rider yang kita tonton ketika kecil terasa lebih keren, transformasinya terasa lebih ikonik, musiknya terasa lebih emosional, desainnya terasa lebih berkarakter, dan cerita-ceritanya terasa lebih bermakna. Mungkin sebagian dari perasaan itu memang nostalgia. Tetapi ada sesuatu yang membuat saya terus kembali kepada Kamen Rider era Heisei awal, bahkan setelah masa kanak-kanak itu berlalu.
Ketika menonton kembali Kuuga, Agito, Ryuki, Faiz, dan Blade, saya menemukan bahwa di balik kenangan tersebut memang terdapat sebuah struktur cerita yang kuat. Mereka tidak hanya memperkenalkan monster baru setiap minggu. Dunia mereka memiliki sejarah, kekuatan mereka memiliki asal-usul, dan monster mereka memiliki hubungan dengan tema utama. Sang Rider pun tidak berdiri di luar semua itu — ia justru lahir dari dunia yang sedang ia lawan.
Dalam Kuuga, Godai tidak sekadar menjadi manusia yang mengenakan armor. Ia muncul ketika Gurongi kembali dan membawa ancaman pembunuhan terhadap masyarakat. Dunia di sekelilingnya — polisi, dokter, peneliti, masyarakat biasa — ikut menjadi bagian dari konflik tersebut. Bahkan tujuan Godai yang sederhana, yaitu menjaga senyum manusia, menjadi jangkar moral dari perjalanan panjangnya.
Dalam Agito, misteri yang muncul di balik pembunuhan dan kekuatan para Rider perlahan membuka sesuatu yang lebih besar: manusia sedang berubah. Evolusi bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan dalam buku biologi, tetapi sesuatu yang terjadi di dalam tubuh manusia dan mengancam tatanan yang selama ini dianggap normal.
Dalam Ryuki, dunia lain berdiri tepat di balik permukaan dunia manusia. Mirror World menjadi ruang tempat para Rider bertarung, sementara manusia diberikan kesempatan untuk mendapatkan keinginan melalui pertarungan tersebut. Namun Shinji Kido masuk ke dalam dunia itu dengan sesuatu yang sangat sederhana: ia tidak ingin manusia saling membunuh.
Dalam Faiz, batas antara manusia dan monster menjadi semakin kabur. Orphnoch bukan makhluk yang sepenuhnya asing; mereka berkaitan erat dengan manusia dan kemungkinan perubahan manusia itu sendiri. Takumi dan Kiba berdiri di dua sisi identitas yang sama-sama tidak sederhana.
Dan dalam Blade, pertarungan para Rider dan Undead terhubung dengan sebuah sistem kehidupan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang memenangkan pertarungan berikutnya.
Ketika melihat semuanya kembali, saya mulai menyadari sesuatu. Mungkin yang saya rindukan bukan masa lalu. Yang saya rindukan adalah cerita yang memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Manusia dan Keinginannya untuk Menjadi Lebih Kuat
Ada satu pola yang berulang dalam cerita Kamen Rider: manusia selalu menginginkan kekuatan. Keinginan itu sebenarnya sangat manusiawi. Sejak awal keberadaannya, manusia selalu berusaha melampaui keterbatasan tubuhnya — kita menciptakan roda karena ingin bergerak lebih jauh, menciptakan mesin karena ingin menjadi lebih kuat, menciptakan pesawat karena ingin terbang, menciptakan obat karena tidak ingin mati, dan menciptakan komputer karena ingin memperluas kemampuan berpikir. Kita terus menciptakan sesuatu yang membuat kita mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya mustahil. Dalam arti tertentu, sejarah manusia adalah sejarah tentang keinginan untuk menjadi lebih dari dirinya sendiri.
Namun setiap kekuatan membawa bayangannya sendiri. Sebuah teknologi yang dapat menyelamatkan kehidupan dapat pula digunakan untuk menghancurkannya. Sebuah pengetahuan yang dapat membebaskan manusia dapat digunakan untuk mengendalikan manusia. Sebuah kekuasaan yang diberikan untuk melindungi dapat berubah menjadi alat untuk menguasai. Dan sebuah kemampuan yang awalnya diciptakan untuk menyelamatkan manusia dapat menjadi sesuatu yang justru mengancam manusia.
Di sinilah Kamen Rider menemukan ruang filosofisnya. Karena kekuatan yang dimiliki seorang Rider hampir tidak pernah hadir begitu saja. Kekuatan tersebut biasanya merupakan bagian dari masalah yang sedang ia hadapi.

Kontradiksi yang Melahirkan Sang Rider
Menurut saya, dunia Kamen Rider yang paling kuat selalu dibangun di atas sebuah kontradiksi. Manusia menciptakan sesuatu untuk menyelesaikan masalah. Sesuatu tersebut berkembang, dan perkembangan itu kemudian menciptakan masalah baru. Manusia mencoba mengendalikannya, kekuatan baru lahir, dan akhirnya seseorang harus berdiri di tengah semuanya. Ia mendapatkan kekuatan untuk melawan ancaman tersebut — tetapi kekuatan yang sama juga membuatnya semakin dekat dengan ancaman yang sedang ia lawan.
Di sinilah seorang Rider menjadi menarik. Ia tidak benar-benar berdiri di luar dunia. Ia adalah produk dari dunia tersebut. Dunia melahirkannya, dunia memberinya kekuatan, dan dunia pula yang memaksanya mempertanyakan apa yang harus dilakukan dengan kekuatan tersebut.
Struktur ini menghasilkan sebuah konflik yang menurut saya merupakan inti Kamen Rider:
Dunia memiliki kontradiksi → manusia mengalami konsekuensinya → manusia memperoleh kekuatan → kekuatan memperbesar kontradiksi → manusia harus memilih bagaimana menggunakan kekuatan tersebut.
Pada titik tertentu, pertarungan tidak lagi hanya terjadi antara Rider dan monster. Pertarungan yang sesungguhnya berlangsung di dalam diri manusia itu sendiri. Manusia melawan kemungkinan dirinya sendiri.

Kuuga: Ketika Kekuatan untuk Melindungi Berubah Menjadi Ancaman
Bayangkan seorang manusia yang memperoleh kekuatan luar biasa. Dengan kekuatan tersebut, ia dapat menghentikan monster, menyelamatkan orang, melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Namun bersamaan dengan itu muncul kemampuan lain: ia juga dapat menghancurkan, dapat membunuh, dapat menjadi lebih kejam daripada sebelumnya.
Itulah salah satu ketegangan yang terasa kuat dalam Kamen Rider Kuuga. Godai memperoleh kekuatan Kuuga untuk menghadapi Gurongi, namun semakin jauh ia berjalan, semakin besar pula beban yang harus ia tanggung. Kekuatan tersebut bukan hanya memperbesar kemampuan tubuhnya — ia memperbesar tanggung jawab moralnya. Godai harus bertarung, tetapi ia tidak ingin menikmati kekerasan. Ia harus membunuh, tetapi ia tidak ingin kehilangan rasa kemanusiaannya. Ia harus menjadi kuat, tetapi ia tidak ingin kekuatan tersebut menentukan siapa dirinya.
Toei bahkan menggambarkan Godai sebagai seseorang yang berusaha mempertahankan kelembutan dan senyumnya ketika tubuh dan kekuatannya sendiri mulai berubah. Dan di situlah pertanyaan Kuuga menjadi begitu sederhana sekaligus berat:
Seberapa jauh manusia boleh menggunakan kekerasan untuk melindungi manusia lain sebelum dia sendiri kehilangan kemanusiaannya?
Godai tidak menang karena ia menjadi monster yang lebih kuat daripada monster. Ia menang karena ia memilih untuk tidak menjadi monster tersebut.

Agito: Ketika Manusia Mulai Berevolusi
Jika Kuuga berbicara tentang kekuatan dan kekerasan, Agito membawa kita kepada sesuatu yang lebih fundamental: evolusi manusia. Agito dibangun di sekitar gagasan bahwa manusia sedang mengalami perubahan — kekuatan baru muncul, dan manusia mulai menjadi sesuatu yang berbeda.
Namun evolusi tidak pernah benar-benar sederhana. Kita sering membayangkan evolusi sebagai perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik, padahal lebih kuat belum tentu lebih baik, lebih pintar belum tentu lebih bijaksana, dan lebih maju belum tentu lebih manusiawi. Agito menghadirkan ketakutan terhadap manusia yang sedang berubah. Ketika sebagian manusia mulai memiliki kemampuan yang melampaui manusia biasa, muncul pertanyaan tentang apa yang akan terjadi terhadap manusia yang tidak berubah. Apakah mereka akan tertinggal? Apakah mereka akan takut? Apakah mereka akan mencoba menghancurkan sesuatu yang tidak mereka pahami?
Materi resmi Agito sendiri menghubungkan serial tersebut secara eksplisit dengan misteri evolusi manusia dan benturan nilai yang muncul dari perubahan tersebut. Maka evolusi menjadi paradoks. Manusia ingin berkembang, tetapi manusia juga takut terhadap hasil dari perkembangannya sendiri.

Ryuki: Ketika Dunia Mengajarkan Manusia untuk Membunuh
Lalu ada Ryuki. Dunia Ryuki terasa seperti sebuah cermin yang memperlihatkan sisi manusia yang paling tidak nyaman. Mirror World menjadi tempat di mana manusia dapat memperoleh kekuatan dan mewujudkan keinginannya, tetapi harga dari keinginan tersebut adalah pertarungan — satu Rider melawan Rider lainnya, satu manusia harus jatuh agar manusia lain dapat menang.
Shinji masuk ke dunia tersebut dan menemukan sesuatu yang tidak dapat ia terima. Ia tidak ingin menjadi bagian dari permainan, tidak ingin manusia membunuh manusia, tidak ingin kekuatan menjadi alasan untuk mengorbankan kehidupan lain. Dan justru karena itu, Shinji menjadi karakter yang bertentangan dengan sistem tempat ia berada. Dunia berkata: bertarunglah. Shinji berkata: berhentilah. Dunia berkata: bunuh agar dapat hidup. Shinji berkata: hidup tidak seharusnya membutuhkan kematian orang lain.
Di sinilah Ryuki menjadi lebih dari sekadar cerita battle royale. Ia menjadi pertanyaan tentang moralitas di dalam sebuah sistem.
Jika sebuah dunia mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan mengorbankan orang lain, apakah kita harus menerima aturan dunia tersebut?

Faiz: Ketika Batas Manusia dan Monster Menghilang
Dalam Faiz, pertanyaan tentang kemanusiaan menjadi semakin personal. Orphnoch bukan sekadar makhluk yang datang dari luar — mereka adalah kemungkinan lain dari manusia. Dan karena itu, batas antara manusia dan monster menjadi semakin tipis. Takumi memiliki kekuatan Faiz, Kiba memiliki tubuh Orphnoch, namun Kiba masih ingin hidup sebagai manusia. Ia masih memiliki perasaan, masih ingin dicintai, masih ingin memiliki kehidupan.
Dan di sinilah pertanyaan yang paling menarik muncul:
Jika tubuh seseorang berubah, apakah kemanusiaannya juga ikut berubah?
Kita sering mendefinisikan manusia melalui tubuh — DNA, spesies, biologi. Tetapi Faiz mengajak kita melihat sesuatu yang lain: bagaimana jika kemanusiaan justru berada pada pilihan? Pada empati, pada rasa bersalah, pada kemampuan untuk mencintai, pada keputusan untuk tidak menyakiti orang lain meskipun kita memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Maka muncul sebuah pertanyaan yang sampai sekarang menurut saya sangat kuat:
“Kalau aku sendiri bisa menjadi monster, apa yang membedakanku dari mereka?”
Pertanyaan tersebut tidak hanya berlaku untuk Orphnoch. Ia juga berlaku untuk manusia.

Blade: Ketika Kemenangan Memiliki Harga
Dalam Blade, dunia menjadi semakin besar. Undead, Battle Fight, Rider System, dan keseimbangan kehidupan membentuk sebuah sistem yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengalahkan musuh satu demi satu. Semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa kemenangan memiliki harga. Ada keputusan yang tidak menghasilkan akhir bahagia untuk semua orang, ada pilihan yang mengharuskan seseorang kehilangan sesuatu, ada keadaan di mana menjadi pemenang bukan berarti mendapatkan semuanya.
Dan mungkin itulah salah satu pelajaran paling dewasa dari Kamen Rider: kekuatan tidak membuat pilihan menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya — semakin kuat seseorang, semakin besar pula dampak dari pilihannya. Seorang manusia biasa mungkin hanya dapat memengaruhi hidup beberapa orang, tetapi ketika manusia tersebut diberikan kekuatan yang dapat mengubah dunia, setiap keputusan menjadi jauh lebih berat. Karena itu, menjadi hero bukan hanya soal memiliki kemampuan untuk menang. Menjadi hero adalah tentang bersedia menanggung konsekuensi dari keputusan untuk menang.

Build: Ketika Kamen Rider Modern Masih Mengingat Siapa Dirinya
Namun jika semua argumen ini berakhir dengan kesimpulan bahwa Kamen Rider modern telah kehilangan jiwa, saya rasa itu juga tidak adil. Karena Kamen Rider Build justru menunjukkan bahwa jiwa tersebut masih dapat hidup di era modern. Dunia Build dipenuhi eksperimen, teknologi, Pandora Box, Sky Wall, perang, Smash, dan perubahan politik. Sento Kiryu sendiri adalah seorang ilmuwan yang kehilangan ingatan dan perlahan menemukan bahwa misteri dirinya tidak dapat dipisahkan dari misteri dunia yang sedang ia coba selamatkan.
Di sini kekuatan tidak berdiri sendiri. Eksperimen menghasilkan kekuatan, kekuatan menghasilkan konflik, konflik menghasilkan perang, perang menghasilkan penderitaan, dan penderitaan kembali memengaruhi manusia yang menggunakan kekuatan tersebut. Bahkan ketika Sento mendapatkan bentuk yang lebih kuat, kekuatan tersebut membawa konsekuensi baru — Hazard Trigger, misalnya, bukan sekadar upgrade, karena penggunaannya membawa risiko kehilangan kendali dan memaksa Sento berhadapan dengan batas moral dirinya sendiri.
Inilah yang membuat Build terasa penting. Ia menunjukkan bahwa gimmick dan filosofi tidak harus menjadi dua hal yang berlawanan. Form baru dapat menjadi perkembangan karakter, teknologi dapat menjadi bagian dari world-building, desain dapat menjadi simbol, dan kekuatan dapat tetap menjadi sumber konflik. Masalahnya bukan apakah sebuah Kamen Rider memiliki banyak form. Masalahnya adalah:
Apakah setiap perkembangan tersebut masih memiliki sesuatu untuk dikatakan tentang manusia?

Ketika Desain Tidak Lagi Bercerita
Mungkin inilah bagian yang paling subjektif dari tulisan ini. Saya tidak menganggap desain Kamen Rider lama selalu lebih bagus hanya karena lebih sederhana — desain modern bisa sangat kompleks, bahkan sangat kompleks. Masalahnya bukan jumlah warna, jumlah armor, atau jumlah ornamen. Masalahnya adalah hubungan antara desain dan cerita.
Desain yang baik membuat kita dapat melihat karakter bahkan sebelum ia berbicara. Kita dapat merasakan bahwa ada sesuatu di balik bentuk tersebut — teknologi, serangga, kartu, eksperimen, mesin, evolusi, atau karakter itu sendiri. Desain menjadi bahasa. Ia memberi tahu kita sesuatu tentang dunia tempat Rider itu hidup. Karena itu saya lebih tertarik pada pertanyaan “Mengapa Kamen Rider ini terlihat seperti ini?” daripada “Seberapa keren Kamen Rider ini?”
Ketika desain hanya mengejar efek “wah”, armor dapat kehilangan hubungan dengan karakter. Ia memang terlihat spektakuler, tetapi spektakuler tidak selalu berarti bermakna. Pada titik tertentu, Kamen Rider dapat terlihat seperti sebuah kostum yang dirancang untuk dipamerkan, bukan sebuah bentuk yang lahir secara alami dari dunia ceritanya. Dan menurut saya, di situlah perbedaan antara style dan identity. Style membuat sesuatu terlihat keren. Identity membuat kita tahu mengapa sesuatu itu harus terlihat demikian.
Kamen Rider Tidak Harus Menjadi Tontonan Dewasa
Ada satu kesalahpahaman yang perlu saya hindari dalam kritik ini. Kamen Rider memang merupakan franchise yang sangat kuat di pasar anak-anak. Bandai dan Bandai Namco secara terbuka menempatkan Kamen Rider sebagai salah satu IP utama mereka, dengan produk dan bisnis yang menyasar berbagai kelompok usia, tetapi tetap memiliki basis kuat pada pasar anak-anak.
Karena itu, saya tidak berpikir Kamen Rider harus berubah menjadi tontonan dewasa. Tidak perlu menjadi gelap, tidak perlu menjadi brutal, tidak perlu penuh darah, tidak perlu dipenuhi politik. Yang saya inginkan sebenarnya jauh lebih sederhana: Kamen Rider tetap boleh menjadi tontonan anak-anak, tetapi jangan menganggap bahwa anak-anak hanya membutuhkan spectacle.
Anak-anak dapat memahami konsep sederhana tentang keberanian, tentang pengorbanan, tentang tanggung jawab, tentang rasa takut, tentang kekuatan, tentang memilih untuk tidak menyakiti orang lain. Dan yang paling penting: tentang menjadi manusia.
Cerita seperti itu tidak menjadi “terlalu dewasa”. Justru ia menjadi cerita yang dapat tumbuh bersama penontonnya. Ketika seorang anak menonton Kuuga, mungkin ia hanya melihat seorang hero yang keren. Sepuluh tahun kemudian, ia mungkin melihat pertanyaan tentang kekerasan. Sepuluh tahun setelahnya, ia mungkin melihat pertanyaan tentang tanggung jawab. Dan mungkin ketika ia menjadi orang tua, ia melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Itulah kekuatan sebuah cerita yang memiliki lapisan.
World-Building yang Menjadikan Rider Sebagai Bagian dari Dunia
Pada akhirnya, semua ini kembali kepada world-building. Bagi saya, Kamen Rider yang baik tidak dimulai dari pertanyaan “Form apa yang akan kita buat?” Ia dimulai dari:
“Dunia seperti apa yang kita bangun?”
Dunia itu kemudian memiliki sejarah, memiliki aturan, memiliki teknologi, memiliki ancaman, memiliki masyarakat, memiliki konsekuensi. Dan dari seluruh sistem tersebut, seorang manusia muncul. Ia memperoleh kekuatan, ia berubah, dan kemudian ia harus menghadapi dunia yang melahirkannya.
Itulah mengapa Rider terasa menjadi bagian dari dunia, bukan sekadar karakter yang ditempelkan di atasnya. Kuuga tidak dapat dipisahkan dari Gurongi. Agito tidak dapat dipisahkan dari evolusi manusia. Ryuki tidak dapat dipisahkan dari Mirror World. Faiz tidak dapat dipisahkan dari Orphnoch. Blade tidak dapat dipisahkan dari Undead dan Battle Fight. Build tidak dapat dipisahkan dari Pandora Box, eksperimen, dan perang.
Ketika semua elemen tersebut saling berhubungan, world-building menjadi lebih dari sekadar latar. Dunia menjadi penyebab lahirnya konflik. Dan Rider menjadi konsekuensi dari konflik tersebut.
Evolusi Kamen Rider Seharusnya Tidak Berarti Kehilangan Identitas
Mungkin ironi terbesar dari semua ini adalah bahwa Kamen Rider sendiri adalah sebuah franchise yang terus berevolusi. Ia berubah bersama zaman — teknologinya berubah, desainnya berubah, cara berceritanya berubah, target penontonnya berubah, cara produksinya berubah. Dan itu semua wajar, bahkan seharusnya demikian. Kamen Rider tidak mungkin bertahan selama lebih dari lima puluh tahun jika ia menolak berubah.
Namun evolusi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Ada sesuatu yang harus dibawa — sebuah inti, sebuah gagasan, sebuah jiwa. Dan bagi saya, inti tersebut adalah:
manusia yang memperoleh kekuatan, lalu berhadapan dengan kemungkinan kehilangan kemanusiaannya sendiri.
Kamen Rider boleh memiliki bentuk apa pun. Boleh menjadi lebih modern, lebih eksperimental, lebih aneh, lebih colorful, lebih kompleks. Tetapi selama manusia tetap menjadi pusatnya, ia masih memiliki jiwa.
Ketika Sang Kesatria Bertopeng Berdiri di Depan Cermin
Mungkin itulah alasan saya masih kembali kepada Kamen Rider. Bukan karena saya ingin kembali menjadi anak kecil. Bukan karena saya menolak zaman baru. Dan bukan karena semua Kamen Rider lama sempurna. Saya kembali karena ketika melihat seorang Rider berdiri di tengah dunia yang penuh kontradiksi, saya selalu melihat sesuatu yang lebih besar daripada seorang superhero.
Saya melihat manusia. Manusia yang takut, manusia yang marah, manusia yang ingin melindungi, manusia yang memiliki kekuatan, manusia yang dapat menghancurkan, dan manusia yang harus memilih. Topengnya menyembunyikan wajah. Armor-nya menyembunyikan tubuh. Kekuatan membuatnya tampak seperti sesuatu yang bukan manusia. Tetapi justru di balik semua itu terdapat pertanyaan yang paling manusiawi:
Jika aku memiliki kekuatan untuk melakukan apa saja, apa yang akan kupilih untuk lakukan?
Mungkin itulah arti Kamen Rider bagi saya. Bukan sekadar manusia yang berubah menjadi kesatria. Tetapi manusia yang harus mempertahankan dirinya sendiri di tengah perubahan.

Pada Akhirnya, Apa yang Membuat Kamen Rider Tetap Menjadi Kamen Rider?
Mungkin jawabannya tidak terletak pada sabuk, tidak pada motor, tidak pada armor, tidak pada monster, tidak pada form, tidak bahkan pada henshin. Semua itu hanyalah bahasa — bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang jauh lebih tua: kisah manusia yang mencari kekuatan.
Manusia ingin berevolusi. Manusia ingin melampaui dirinya sendiri. Manusia ingin mengalahkan keterbatasan. Tetapi setiap langkah menuju kekuatan yang lebih besar juga membawa kemungkinan untuk kehilangan sesuatu — empati, kebebasan, identitas, moralitas, kemanusiaan.
Karena itu, pertanyaan terbesar Kamen Rider mungkin bukan “Seberapa kuat manusia dapat menjadi?” Tetapi:
“Seberapa kuat manusia dapat berevolusi tanpa kehilangan kemanusiaannya?”
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang membuat seorang Kamen Rider menjadi seorang Kamen Rider. Bukan karena ia memiliki kekuatan. Tetapi karena ia memiliki kekuatan dan tetap memilih untuk menjadi manusia.
Mungkin evolusi manusia yang paling tinggi bukan ketika kita mampu melakukan apa saja. Mungkin bukan ketika kita menjadi makhluk paling kuat, bukan ketika kita memiliki teknologi paling canggih. Melainkan ketika kita memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja — tetapi masih mampu memilih apa yang benar.
Dan jika Kamen Rider ingin terus hidup selama lima puluh tahun berikutnya, saya berharap inilah sesuatu yang tidak pernah hilang. Desain boleh berubah, teknologi boleh berubah, form boleh berubah, gimmick boleh berubah, dunia boleh berubah. Tetapi manusia yang berada di balik topeng seharusnya tetap ada. Karena ketika manusia itu hilang, yang tersisa mungkin masih terlihat seperti Kamen Rider — masih memiliki armor, masih memiliki henshin, masih memiliki finisher, masih terlihat spektakuler. Tetapi sesuatu yang jauh lebih penting telah hilang. Jiwanya.
Dan mungkin itulah alasan saya merasa bahwa ketika Kamen Rider kehilangan sisi kemanusiaannya, yang sebenarnya hilang bukan sekadar kedalaman sebuah cerita. Yang hilang adalah alasan mengapa sang kesatria bertopeng itu pernah begitu berarti.


