Episode #001
Hi teman-teman, ini adalah konten series SILA DI HARI JUMAT. Di sini aku ingin bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi di hari Jumat — sesuatu yang mungkin awalnya terasa biasa saja, tetapi entah kenapa meninggalkan pikiran setelah kita pulang. Dari cerita itu, aku akan ulas sedikit dalam perspektif Islam, melihatnya dari sudut pandang ilmu pengetahuan secara umum, dan mungkin menemukan sesuatu yang ternyata cukup dekat dengan kehidupan kita sendiri. Jadi, seperti biasa, mari kita duduk sebentar (ber-sila) di hari jumat ini dan mulai baca cerita ini.

Sumber: https://unsplash.com/
CERITA DI HARI JUMAT
Dua Kali Mendengar Ceramah di Hari yang Sama
Jumat ini, rasanya kepala sudah terlalu penuh. Pekerjaan datang terus-menerus tanpa benar-benar memberikan kesempatan untuk berhenti, sementara satu pekerjaan yang selesai seperti hanya menjadi pintu bagi pekerjaan berikutnya. Hahaha ini bukan ketawa bahagia ya, lebih ke frustasi yang tak bertepi.
Belum sempat menarik napas, sudah ada pesan baru. Belum selesai memikirkan satu persoalan, muncul persoalan lain yang harus segera dibereskan.
Beberapa hari terakhir rasanya seperti itu. Bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga mulai muncul rasa suntuk, jenuh, khawatir, dan perasaan seperti sedang berdiri di ujung batas kemampuan diri sendiri. Ada kekhawatiran bahwa kalau terus seperti ini, mungkin aku benar-benar akan mengalami burnout.
Namun Jumat tetap datang seperti biasa.
Di tengah semua pekerjaan yang belum selesai dan pikiran yang masih berlarian ke mana-mana, tiba juga waktunya untuk meninggalkan meja kerja dan berjalan menuju masjid.
Tubuh memang mulai bergerak menuju masjid, tetapi pikiran belum tentu ikut pergi. Ada pekerjaan yang belum selesai, tanggung jawab yang masih menunggu, persoalan keuangan yang harus dipikirkan, dan masa depan yang akhir-akhir ini terasa lebih penuh ketidakpastian. Ya Allah, beneran ini – kapan selesainya ini? Akkkhhhhh teriakku dalam hati tak tahu harus berbuat apa.
Aku duduk dan khutbah Jumat dimulai.
Aku berusaha mendengarkan, meskipun harus jujur bahwa konsentrasiku tidak sepenuhnya ada di sana. Sesekali aku benar-benar memperhatikan, tetapi sesekali pikiran kembali kepada pekerjaan, sementara rasa lelah dan kantuk membuat beberapa bagian khutbah hanya terdengar samar. Namun ada satu hal yang tetap tertinggal setelah khutbah itu selesai.
Tentang iman.
Tentang bagaimana manusia membutuhkan Allah sebagai tempat bersandar. Tentang bagaimana kehidupan tidak selalu bisa kita kendalikan, dan mungkin ada saatnya kita harus belajar meletakkan sebagian kekhawatiran kita kepada sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan diri sendiri.
Aku mendengarnya.
Tetapi mungkin saat itu aku belum benar-benar memahaminya. Salat Jumat selesai, dan aku keluar dari masjid dengan persoalan yang sebenarnya masih sama. Pekerjaan belum selesai, tanggung jawab belum berkurang, dan masa depan masih belum menjadi lebih pasti.
Karena merasa lapar, aku kemudian berhenti untuk membeli siomay.
Di sana ada seorang pedagang siomay yang usianya sudah tidak muda lagi. Aku memesan seperti pelanggan lainnya, lalu sambil menunggu pesananku disiapkan, aku mulai tersadar kalau si bapak sedari tadi tak henti berbicara. Wah ada kutbah lagi di jalan ini, batinku.
Awalnya hanya percakapan sederhana.
Namun tiba-tiba pembicaraan beralih kepada anaknya. Wajah bapak itu langsung berubah ketika bercerita. Ada semacam kebahagiaan yang begitu mudah terlihat, seperti seseorang yang baru saja menerima kabar yang sangat ia syukuri.
Anaknya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Ia bercerita dengan begitu antusias. Tentang anaknya, tentang kesempatan yang didapatkan, tentang kebanggaannya sebagai orang tua, dan tentang betapa bahagianya ia melihat anaknya memperoleh sesuatu yang mungkin dulu tidak pernah ia bayangkan.
Aku memperhatikan cara ia bercerita.
Ia masih berdiri di belakang gerobak siomaynya. Tangannya masih sibuk menyiapkan pesanan, pelanggan masih datang dan pergi, dan kehidupan tetap berjalan seperti biasanya. Namun entah mengapa, dari cara ia berbicara, ada sesuatu yang terasa sangat ringan.
Tenang.
Bukan ketenangan yang dibuat-buat. Bukan juga kebahagiaan yang terasa seperti sedang dipamerkan. Lebih seperti seseorang yang sedang benar-benar menikmati sebuah nikmat. Ia kemudian mulai berbicara tentang kehidupan. Tentang anak. Tentang bersyukur. Tentang bagaimana hidup tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang harus kita taklukkan sendirian.
Dan di tengah obrolan sederhana itu, ia mengatakan sesuatu tentang iman.
Kurang lebih pesannya sederhana: selama hati masih memiliki iman dan kita percaya kepada Allah, tidak seharusnya kita terlalu takut menghadapi kehidupan.
Kalimatnya sederhana.
Tidak menggunakan istilah yang rumit. Tidak terdengar seperti sebuah teori. Tidak juga disampaikan seperti ceramah panjang. Tetapi entah mengapa, kali ini kalimat itu terasa berbeda. Sebenarnya, beberapa puluh menit sebelumnya aku baru saja mendengar khutbah Jumat tentang iman dan ketenangan. Aku mendengarkannya dari mimbar, sambil sesekali menahan kantuk dan mencoba mengumpulkan pikiran yang berantakan. Sekarang, setelah keluar dari masjid, seorang bapak penjual siomay justru mengingatkanku kembali pada hal yang hampir sama.
Rasanya seperti mendapatkan ceramah kedua.
Yang pertama datang dari mimbar. Yang kedua datang dari seorang bapak yang sedang berjualan siomay. Dan tiba-tiba aku berpikir:
Jangan-jangan memang ini yang sedang perlu aku dengar.
Bukan berarti semua masalahku tiba-tiba selesai. Pekerjaan masih ada. Kekhawatiran masih ada. Hal-hal yang belum pasti juga masih tetap menunggu untuk dihadapi.
Tetapi mungkin ada sesuatu yang sedang diingatkan.
Bahwa selama ini aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya mengendalikan semua hal dalam hidup, sampai lupa bahwa tidak semua hal memang berada dalam kendaliku.
Ada hal yang harus diperjuangkan. Ada hal yang harus direncanakan. Ada hal yang harus diperbaiki. Tetapi ada pula hal-hal yang pada akhirnya harus kita serahkan kepada Allah.
Dan mungkin, di situlah iman bekerja.
Bukan untuk membuat hidup bebas dari masalah, tetapi untuk membuat hati tidak kehilangan tempat ketika masalah datang. Hari itu aku pulang membawa sebungkus siomay. Tetapi rasanya seperti membawa sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.
Aku membawa sebuah pengingat.
Sebuah teguran kecil. Atau mungkin, sebuah ceramah kedua yang datang tepat setelah ceramah pertama. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari merasa begitu penuh, muncul satu pertanyaan di dalam kepala:
Jangan-jangan selama ini yang paling aku butuhkan bukan kehidupan yang lebih mudah, tetapi hati yang lebih tenang dalam menjalaninya?
Sumber: https://unsplash.com/
Ketika Hati Menemukan Tempat untuk Tenang
Pertanyaan itu ternyata membawa kita kepada sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam: hubungan antara iman dan ketenangan hati. Al-Qur’an memberikan sebuah gambaran yang sangat indah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28. Allah menyebut bahwa orang-orang beriman menemukan ketenteraman hati melalui mengingat-Nya.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menarik karena ia tidak mengatakan bahwa orang beriman akan menjalani kehidupan tanpa masalah. Tidak ada janji bahwa setelah seseorang beriman, seluruh persoalannya akan menghilang. Yang dibicarakan justru adalah sesuatu yang terjadi di dalam hati ketika seseorang mengingat Allah.
Ada perbedaan besar antara hidup tanpa masalah dan memiliki ketenangan ketika menghadapi masalah. Kita sering membayangkan ketenangan sebagai sebuah kondisi ketika semuanya sudah beres. Pekerjaan selesai, uang cukup, keluarga baik-baik saja, masa depan jelas, dan tidak ada lagi sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah benar-benar sampai pada titik tersebut.
Satu masalah selesai, masalah lain muncul. Satu target tercapai, target berikutnya datang. Satu kekhawatiran menghilang, kekhawatiran lain kadang mengambil tempatnya. Kalau ketenangan kita selalu menunggu keadaan menjadi sempurna, mungkin kita akan terus menunggu seumur hidup bro!
Karena itu, ayat tentang ketenteraman hati tersebut terasa begitu relevan. Ia seolah mengingatkan bahwa ada bentuk ketenangan yang tidak sepenuhnya bergantung kepada keadaan di luar diri kita.
Ketenangan itu berhubungan dengan kepada siapa hati kita bersandar.
Hal ini juga dapat kita temukan dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang majelis yang digunakan untuk mengingat Allah. Dalam Sahih Muslim 2700, disebutkan bahwa orang-orang yang duduk mengingat Allah dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, dan ketenangan turun kepada mereka.
Ada sesuatu yang menarik dari gambaran tersebut.
Manusia hanya duduk dan mengingat Allah, tetapi aktivitas yang terlihat sederhana itu memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Mungkin karena manusia memang membutuhkan ruang untuk berhenti.
Kita membutuhkan waktu ketika tidak sedang mengejar sesuatu. Kita membutuhkan waktu ketika pikiran tidak harus terus-menerus menghitung risiko, memikirkan masa depan, atau mencoba mengendalikan semua kemungkinan. Dalam kehidupan yang serba cepat, berhenti sering kali terasa seperti membuang waktu.
Padahal mungkin, berhenti adalah salah satu cara untuk kembali menyadari ke mana sebenarnya kita sedang berjalan. Iman juga tidak berarti seseorang tidak akan merasa takut, sedih, kecewa, atau lelah.
Manusia tetap manusia.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengalami kehilangan, kesedihan, tekanan, dan berbagai ujian dalam kehidupannya. Maka ketenangan dalam perspektif iman tidak harus dipahami sebagai keadaan ketika seseorang tidak lagi merasakan emosi negatif.
Mungkin ketenangan lebih tepat dipahami sebagai keadaan ketika emosi tersebut tidak membuat kita kehilangan tempat untuk kembali. Kita masih bisa takut, tetapi tidak kehilangan Allah. Kita masih bisa sedih, tetapi tidak kehilangan harapan. Kita masih bisa lelah, tetapi tidak merasa harus memikul semuanya sendirian. Kita masih bisa menghadapi ketidakpastian, tetapi percaya bahwa ketidakpastian bagi manusia bukan berarti ketidakpastian bagi Allah.
Dan mungkin di situlah iman menjadi begitu penting.
Iman tidak selalu mengubah keadaan di luar diri kita. Tetapi iman dapat mengubah cara kita berdiri ketika berhadapan dengan keadaan tersebut. Bagaimana menurutmu, apakah itu make-sense?
Sumber: https://unsplash.com/
Mengapa Manusia Begitu Membutuhkan Ketenangan?
Kalau Islam berbicara tentang ketenteraman hati melalui hubungan dengan Allah, lalu bagaimana ilmu pengetahuan melihat pengalaman manusia yang membutuhkan ketenangan?
Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi kepadaku hari itu sebenarnya cukup masuk akal. Ketika pekerjaan datang terus-menerus, deadline mengejar, dan pikiran tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berhenti, tubuh dan pikiran memang sedang berada dalam kondisi menghadapi tekanan.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini berkaitan dengan stress, yaitu respons seseorang ketika menghadapi tuntutan atau tekanan yang dianggap membebani diri. Jadi ternyata, rasa seperti “Aduh, capek banget, pengen berhenti sebentar” itu bukan cuma drama di kepala. Ketika tekanan datang terus-menerus, tubuh dan pikiran memang bisa terus berada dalam kondisi merespons tuntutan tersebut.
Tapi ada hal lain yang menarik. Dalam psikologi, pengalaman stress tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi kepada seseorang, tetapi juga dari bagaimana seseorang menilai apa yang sedang terjadi.
Konsep ini banyak dibahas dalam pendekatan transactional model of stress and coping dari Richard Lazarus dan Susan Folkman. Dalam penelitian mereka, cognitive appraisal berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai apa yang sedang dipertaruhkan dalam sebuah situasi dan bagaimana ia menilai pilihan atau kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi situasi tersebut. Penelitian mereka juga menunjukkan bahwa bentuk coping yang digunakan seseorang berkaitan dengan bagaimana ia menilai situasi dan pilihan yang tersedia baginya.
Kalau dipikir-pikir, mungkin ini juga yang terjadi kepadaku hari ini. Bukan hanya karena pekerjaan memang banyak, tetapi karena di kepalaku hampir semuanya terasa seperti sesuatu yang harus segera kuselesaikan dan kendalikan. Pekerjaan harus selesai. Masalah harus selesai. Masa depan harus jelas. Semua harus punya jawaban.
Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali kita.
Dan mungkin itu sebabnya kita terkadang merasa jauh lebih lelah daripada yang seharusnya. Bukan hanya karena masalahnya banyak, tetapi karena kita merasa semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Kalau begitu, mungkin ketenangan bukan berarti tidak punya masalah. Bisa jadi ketenangan adalah ketika kita tahu masalah mana yang memang harus kita hadapi, mana yang masih bisa kita usahakan, dan mana yang pada akhirnya harus kita lepaskan.
Ketika Hidup Terasa Memiliki Makna
Lalu aku kembali teringat kepada bapak penjual siomay tadi. Ada perjuangan yang terbayar. Ada doa yang menemukan jalannya. Ada seorang anak yang mendapatkan kesempatan. Ada alasan untuk merasa bersyukur.
Kalau dipikir-pikir, mungkin yang membuat cerita bapak itu terasa begitu berbeda bukan hanya karena ia sedang mendapatkan kabar baik. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa senang karena anaknya mendapatkan beasiswa: ada sebuah perjalanan yang terasa memiliki arti.
Dalam psikologi, hal seperti ini dapat dikaitkan dengan konsep meaning in life, atau kebermaknaan hidup. Secara sederhana, konsep ini berbicara tentang bagaimana seseorang melihat kehidupannya sebagai sesuatu yang memiliki makna dan arti bagi dirinya.
Penelitian Zika dan Chamberlain yang diterbitkan dalam British Journal of Psychology menemukan adanya hubungan yang kuat antara meaning in life dan psychological well-being. Hubungan tersebut juga ditemukan kembali pada dua sampel penelitian yang mereka gunakan. Menariknya, meaning in life memiliki hubungan yang lebih kuat dengan dimensi kesejahteraan yang positif dibandingkan dengan dimensi negatif.
Jadi mungkin yang kita lihat pada bapak itu bukan sekadar orang yang sedang bahagia karena mendapatkan kabar baik.
Bisa jadi ia sedang mengalami sebuah momen ketika kehidupan terasa memiliki makna.
Kita tentu tidak tahu seperti apa seluruh kehidupannya. Kita tidak tahu berapa banyak masalah yang pernah ia lewati, seberapa berat tanggung jawab yang harus ia jalani, atau apa saja yang masih ia pikirkan ketika berdiri di belakang gerobak siomaynya. Yang kita tahu, hari itu ia mendapatkan sebuah kabar yang membuat perjalanan hidupnya terasa layak untuk dirayakan.
Anaknya mendapatkan beasiswa.
Bagi orang lain mungkin itu hanya sebuah kabar baik. Tapi bagi seorang ayah, bisa jadi di balik kabar tersebut ada bertahun-tahun bekerja, membesarkan anak, berdoa, berharap, dan menunggu sampai akhirnya melihat sesuatu yang selama ini diperjuangkan mulai menemukan hasilnya.
Mungkin itulah kenapa wajahnya terlihat begitu bahagia.
Bukan karena hidupnya tiba-tiba menjadi sempurna. Tetapi karena untuk sesaat, ia bisa melihat makna dari perjalanan yang sudah ia lalui. Dan menariknya, makna tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Bisa jadi makna itu datang dari melihat anak berhasil, dari merasa perjuangan bertahun-tahun tidak sia-sia, atau dari menyadari bahwa masih ada sesuatu yang bisa disyukuri di tengah kehidupan yang mungkin sebenarnya tetap penuh dengan masalah.
Di titik ini aku mulai melihat cerita bapak tadi dengan cara yang sedikit berbeda.
Mungkin ketenangannya bukan karena hidupnya lebih mudah daripada hidupku. Mungkin ia hanya sedang melihat hidupnya melalui sesuatu yang membuat perjuangannya terasa berarti. Dan mungkin itu juga yang sering hilang ketika kita sedang terlalu stres. Kita terlalu sibuk melihat apa yang belum selesai sampai lupa bertanya:
“Sebenarnya, untuk apa semua ini aku jalani?”
Lalu, Bagaimana dengan Iman?
Kalau sampai di sini kita berbicara tentang stress, cara kita menilai masalah, dan kebermaknaan hidup, lalu bagaimana dengan iman dan spiritualitas? Apakah keduanya juga memiliki hubungan dengan bagaimana manusia menghadapi tekanan kehidupan?
Dalam penelitian mengenai religiosity dan spirituality memang cukup banyak, tetapi jawabannya ternyata tidak sesederhana “semakin religius seseorang, semakin tenang hidupnya.” Hubungannya lebih kompleks daripada itu.
Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan di BMC Psychiatry pada 2023 meninjau 45 penelitian longitudinal dan 29 penelitian intervensi mengenai religiosity dan spiritual involvement pada anak muda usia 10–24 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan tertentu antara religiosity/spirituality dan kesehatan mental, termasuk temuan bahwa spiritual well-being berpotensi memiliki hubungan protektif terhadap depresi, sementara bentuk negative religious coping dapat berkaitan dengan hasil kesehatan mental yang lebih buruk. Para peneliti juga menekankan bahwa kualitas bukti yang tersedia masih beragam dan banyak penelitian berada pada tingkat kualitas rendah hingga sedang.
Menurutku, bagian ini justru menarik.
Karena – berarti iman tidak tepat kalau kita sederhanakan menjadi semacam “obat” yang membuat semua masalah hilang. Orang yang beriman tetap bisa takut, sedih, lelah, cemas, kecewa, dan mengalami berbagai persoalan dalam hidupnya. Yang mungkin berbeda adalah bagaimana seseorang memaknai persoalan tersebut dan bagaimana ia menghadapinya.
Dan ini kembali membawa kita kepada cerita bapak penjual siomay tadi.
Ia tidak sedang mengatakan bahwa hidupnya sempurna. Ia juga tidak sedang mengatakan bahwa setelah memiliki iman, semua masalah akan hilang. Ia hanya berbicara tentang sesuatu yang membuatnya tetap bisa merasa bahagia di tengah kehidupan yang sedang ia jalani.
Tentang anaknya. Tentang kesempatan. Tentang rasa syukur. Tentang iman.
Mungkin itu yang membuat obrolan singkat tadi terasa begitu membekas. Karena tanpa sadar, ia sedang menunjukkan sesuatu yang sebelumnya baru saja aku dengar dari khutbah: bahwa hidup tidak selalu bisa kita kendalikan, tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita menjalaninya.
Kalau kita perhatikan, sebenarnya perspektif Islam dan ilmu pengetahuan sedang melihat manusia dari dua sisi yang berbeda.
Islam berbicara tentang hati yang menemukan ketenteraman melalui mengingat Allah. Sementara psikologi membantu kita memahami bagaimana manusia merespons tekanan, bagaimana kita menilai sebuah situasi, bagaimana kita melakukan coping, dan bagaimana kebermaknaan hidup berkaitan dengan psychological well-being.
Keduanya tidak perlu dipaksa menjadi sesuatu yang sama.
Ilmu pengetahuan tidak perlu digunakan untuk membuktikan bahwa Islam benar, dan Islam juga tidak perlu menunggu pembuktian dari ilmu pengetahuan agar memiliki makna bagi orang yang beriman.
Tetapi ketika keduanya kita lihat berdampingan, ada sesuatu yang menarik.
Kita bisa melihat bahwa manusia ternyata memang bukan hanya membutuhkan kehidupan yang berjalan. Kita membutuhkan makna ketika perjalanan terasa berat. Kita membutuhkan arah ketika tidak tahu harus ke mana. Dan mungkin kita juga membutuhkan tempat untuk bersandar ketika akhirnya menyadari bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Dan mungkin…
di situlah rasa tenang mulai memiliki arti yang berbeda.
Bukan berarti hidup kita menjadi tanpa masalah. Bukan berarti pekerjaan tiba-tiba selesai. Bukan berarti masa depan menjadi pasti. Tetapi mungkin kita mulai belajar bahwa kita tidak harus memiliki kendali atas semuanya untuk tetap bisa menjalani kehidupan dengan tenang.
Sumber: https://unsplash.com/
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Kehidupan yang Lebih Tenang
Setelah memikirkan semua itu, aku kembali teringat kepada Jumat siang tadi.
Kepada khutbah yang hampir terlewat karena kantuk heehehe. Kepada seorang bapak penjual siomay yang bercerita dengan mata berbinar tentang anaknya. Dan kepada perasaan aneh ketika dua percakapan yang berbeda tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang terasa begitu dekat dengan keadaan diri sendiri.
Tentang iman. Tentang rasa syukur. Tentang ketenangan. Dan mungkin, kita semua pernah berada di posisi yang sama.
Kita merasa akan tenang setelah mendapatkan sesuatu. Setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.Setelah memiliki uang yang lebih banyak. Setelah bisnis berhasil. Setelah memiliki rumah. Setelah mendapatkan pasangan. Setelah semua masalah selesai.
Kita terus menempatkan ketenangan di masa depan.
Seolah-olah ketenangan adalah hadiah yang baru boleh kita rasakan setelah kehidupan memenuhi semua syarat yang kita buat sendiri. Padahal kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti memberikan sesuatu untuk dipikirkan.
Ketika satu masalah selesai, masalah lain bisa datang. Ketika satu target tercapai, kita menciptakan target baru. Ketika satu kekhawatiran hilang, pikiran menemukan sesuatu yang lain untuk dikhawatirkan. Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Kapan hidupku akan menjadi tenang?”
Tetapi:
“Bagaimana aku bisa tetap memiliki ketenangan ketika hidup sedang tidak tenang?”
Pertanyaan itu terasa jauh lebih dalam. Karena kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan. Kita tidak selalu bisa memastikan apa yang akan terjadi besok. Tetapi mungkin kita masih bisa memilih kepada siapa hati kita bersandar ketika semua hal tersebut berada di luar kendali kita.
Ada hal yang memang harus kita perjuangkan. Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan. Ada keputusan yang harus kita ambil. Ada kesalahan yang harus kita perbaiki. Ada masa depan yang tetap harus kita persiapkan.
Tetapi ada pula bagian kehidupan yang pada akhirnya harus kita serahkan.
Dan mungkin, kemampuan untuk mengetahui mana yang harus diperjuangkan dan mana yang harus diserahkan adalah salah satu bentuk kedewasaan iman. Bukan berarti kita berhenti berusaha. Bukan berarti kita menyerah kepada keadaan.
Justru sebaliknya.
Kita tetap berjalan, tetapi tidak lagi merasa bahwa seluruh dunia harus berada di pundak kita. Kita tetap berusaha, tetapi memahami bahwa hasil tidak selalu berada di tangan kita. Kita tetap merencanakan masa depan, tetapi menyadari bahwa manusia hanya bisa merencanakan apa yang ia ketahui hari ini. Dan kita tetap menghadapi masalah, tetapi tidak harus kehilangan ketenangan hanya karena masalah tersebut belum selesai.
Mungkin inilah yang sebenarnya sedang ingin disampaikan oleh Jumat ini kepadaku.
Khutbah pertama mungkin hanya terdengar sebagai suara dari mimbar. Kemudian beberapa menit setelahnya, seorang bapak penjual siomay mengulang pesan yang sama dengan bahasa kehidupannya sendiri. Haduuh, terima kasih bapak terima kasih ustadz, maafkan anak muda yang bodoh ini heeheh.
Dan mungkin justru di situlah aku benar-benar mendengarnya. Bukan karena kalimatnya lebih indah. Bukan karena dia memiliki teori yang lebih lengkap. Tetapi karena aku melihat sendiri bagaimana seseorang dapat berbicara tentang iman sambil tetap menjalani kehidupannya.
Ia masih bekerja. Ia masih berjualan. Ia masih memiliki tanggung jawab. Tetapi di tengah semua itu, ia masih bisa tertawa ketika bercerita tentang anaknya. Masih bisa merasa bangga. Masih bisa bersyukur. Masih bisa percaya bahwa hidup akan baik-baik saja selama ia tetap memiliki iman di dalam hati.
Dan mungkin aku yang sedang terlalu sibuk memikirkan hidup justru perlu belajar dari seseorang yang sedang menjalani hidup dengan lebih sederhana.
Hari ini, aku pulang membawa sebungkus siomay. Masalahku belum selesai. Pekerjaan masih menunggu. Kekhawatiran tentang masa depan juga belum sepenuhnya hilang.
Tetapi setidaknya, ada satu hal yang berubah.
Aku mulai menyadari bahwa mungkin aku tidak membutuhkan kehidupan yang sepenuhnya bebas dari masalah. Aku hanya membutuhkan hati yang tidak kehilangan tempat untuk kembali ketika masalah datang.
Karena mungkin ketenangan bukan berarti dunia di sekitar kita menjadi sunyi.
Mungkin ketenangan adalah ketika dunia tetap ramai, pekerjaan tetap banyak, masa depan tetap penuh tanda tanya, tetapi hati kita masih tahu kepada siapa ia harus kembali. Dan kalau hari in benar-benar menjadi sebuah pengingat, mungkin aku tidak perlu mencari tanda yang terlalu jauh.
Cukup mengingat dua ceramah yang kudengar di hari Jumat ini. Satu dari mimbar. Satu lagi dari seorang bapak penjual siomay. Keduanya membawa pesan yang sederhana:
jangan sampai kesibukan membuat kita lupa kepada tempat hati kita seharusnya bersandar.
Sebab pada akhirnya, mungkin salah satu nikmat terbesar dalam hidup bukanlah ketika semua yang kita inginkan akhirnya kita miliki. Melainkan, ketika di tengah segala sesuatu yang belum kita miliki, hati masih mampu berkata:
Alhamdulillah.
Dan mungkin…
itulah nikmatnya rasa tenang dan iman di hati.
AKHIR DI HARI JUMAT
Terima kasih sudah ber-sila sejenak untuk membaca series Sila Di Hari Jumat. Sebuah tulisan refleksi kejadian di hari Jumat yang diulas dalam beberapa perspektif sekaligus.
Punya perspektif yang kamu tangkap dari cerita Jumat ini? Tulis pandanganmu tentang makna yang kamu dapat dari cerita di hari Jumat ini di kolom komentar!
REFERENSI
Aggarwal, S., Wright, J., Morgan, A., Patton, G., & Reavley, N. (2023). Religiosity and spirituality in the prevention and management of depression and anxiety in young people: A systematic review and meta-analysis. BMC Psychiatry, 23, 729.
Al-Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 28. Tentang ketenteraman hati melalui mengingat Allah.
American Psychological Association. (2018). Stress. APA Dictionary of Psychology.
Folkman, S., Lazarus, R. S., Dunkel-Schetter, C., DeLongis, A., & Gruen, R. J. (1986). Dynamics of a stressful encounter: Cognitive appraisal, coping, and encounter outcomes. Journal of Personality and Social Psychology, 50(5), 992–1003.
Sahih Muslim, Hadith No. 2700. Tentang majelis dzikir, rahmat, dan ketenangan.
Zika, S., & Chamberlain, K. (1992). On the relation between meaning in life and psychological well-being. British Journal of Psychology, 83(1), 133–145.



